Peristiwa

Sinergi Budaya dan Energi Semarakan Karnaval Bojonegoro

JIMBojonegoro.net – Ada yang sedikit berbeda dalam karnaval budaya Kabupaten Bojonegoro hari ini, Minggu (14/10/2018). Pawai kebudayaan kelas Sekolah Menengah Atas dan umum ini mengangkat khazanah kebudayaan lokal di berbagai kecamatan di wilayah Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.

Namun yang unik adalah Kontingen Undangan dari Kecamatan Gayam. Rombongan yang dinakhodai para pemuda karang taruna ini mengangkat tema harmoni kearifan lokal dengan industri minyak dan gas yang terkenal dari Kecamatan Gayam.

“Kecamatan Gayam ini identik dengan migas di Lapangan Banyu Urip yang dioperatori ExxonMobil Cepu Limited (EMCL). Namun tidak semua orang tahu bahwa di sana terdapat harmoni budaya masyarakat dengan industri energi ini,” tutur Ketua Forum Pengurus Karang Taruna Kecamatan Gayam, Mohammad Kundori.

Dia menuturkan, dalam wilayah yang menjadi Lapangan migas dengan produksi tertinggi di Indonesia ini, terdapat beberapa Sendang yang sudah turun temurun dipelihara masyarakat. Selain sebagai sumber air, sendang-sendang ini juga disakralkan masyarakat.

Masyarakat Kecamatan Gayam, kata Kundori, memiliki budaya mensakralkan sendang dengan melakukan sedekah bumi. Sebuah ritual mengirim doa untuk para leluhur.

“Di dalam Lapangan Banyu Urip itu masyarakat Gayam masih terus melaksanakan sedekah bumi, khususnya di Sendang Kelor yang berdekatan dengan Tapak Sumur C Lapangan Banyu Urip,” ujarnya.

Oleh karena itu, Kundori mengatakan, kontingen karnaval budaya siang tadi mengangkat tema “Kearifan Lokal Sendang Kelor”. Kontingen ini menjadi unik, kata dia, karena memperlihatkan bagaimana sinergi industri migas dengan budaya sedekah bumi berpadu indah dalam menjaga sumber kehidupan masyarakat.

Penilaian ini diamini warga yang menyaksikan. Seperti diungkapkan Gusti Ayu Astitik. Warga Kelurahan Mojokampung ini mengaku salut terhadap penampilan Kartar Kecamatan Gayam ini. Menurutnya, Bojonegoro yang terkenal dengan lumbung energinya sudah seharusnya menampilkan kontingen yang berkaitan dengan migas.

“Saya salut melihat mereka mampu menampilakan sisi kearifan lokalnya migas di Gayam,” ucapnya saat menyaksikan berbagai kontingen diberangkatkan Wakil Bupati Bojonegoro.

Sama halnya dengan pendapat pegiat kebudayaan Bojonegoro, Burhanudin Joe. Menurut guru SMKN 5 Bojonegoro ini, sudah saatnya Gayam menampilkan sisi-sisi yang selama ini tidak disoroti masyarakat. Selama ini, kata dia, orang masih menyoroti aspek ekonominya saja. Padahal banyak cerita positif tentang budaya lokal hasil sinergi industri dan masyarakat di sana.

“Saya apresiasi penampilan kontingen Kartar Gayam yang menampilkan itu,” ucapnya.

Kontingen Kartar Kecamatan Gayam membawa replika pohon gayam, Sendang Kelor, penampilan budaya sedekah bumi, gunungan, reog, dan rombongan pekerja migas.

“Yang ikut tadi para pekerja EMCL, mereka juga ada yang mengenakan kostum khas petani desa,” timpal Kundori.

Penampilan kontingen Kartar Kecamatan Gayam ini, kata Kundori, didukung penuh oleh EMCL. Kata dia, berbagai program kemasyarakatan yang digulirkan EMCL di sekitar wilayah operasinya juga turut ditampilkan.

“Kami ingin turut memeriahkan Hari Jadi Kabupaten Bojonegoro Ke-341 ini. Tanggal 16-18 November nanti juga kami merayakannya di Gayam dalam Festival Banyu Urip,” tukasnya.

Juru bicara dan humas EMCL Rexy Mawardijaya menyampaikan apresiasi kepada Kartar Kecamatan Gayam. Menurutnya, kreativitas dan kemandirian para pemuda ini patut diacungi jempol.

“Kerjasama, komunikasi, dan kekeluargaan yang terjalin baik antara EMCL dengan masyarakat selama ini telah mendukung suksesnya proyek negara di Lapangan Banyu Urip,” ungkap Rexy yang hadir di Karnaval Kebudayaan Bojonegoro tersebut.

Rexy berharap, dukungan positif dari masyarakat selama ini akan terus berlangsung demi terwujudnya kesuksesan proyek negara untuk kesejahteraan masyarakat sekitar, Bojonegoro, dan Indonesia.

“Dari Lapangan Banyu Urip, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, untuk Indonesia,” pungkasnya. (JIM)